Positioning dalam pemasaran jasa perpustakaan
Strategi pemasaran sangat penting dalam menentukan
perjalanan ke depan sebuah perusahaan agar tetap eksis dalam kancah persaingan
usaha. Strategi pemasaran modern yang dikembangkan Hermawan Kartajaya dengan
konsep sembilan elemen pemasarannya atau milik Michael Porter dengan model “
The Five Forces” banyak diadopsi dan diadaptasikan di banyak perusahaan kelas
dunia, misalnya Intel, Lux, Amazon dan The Body Shop. Salah satu unsur
terpenting dari strategi pemasaran itu adalah “positioning”. Apakan strategi positioning
juga dapat diadaptasikan kepada perusahaan jasa. Jawabannya adalah pasti
dapat,termasuk di dalamnya sebuah institusi perpustakaan yang dulu selalu
dikenal sebagai organisasi nirlaba. Perpustakaan modern saat ini tentu telah
banyak merubah strategi organisasinya agar tetap eksis dalam kompetisi dengan
melakukan “reposition” visi dan misi organisasi termasuk menjual produk layanan
informasi kepada segmen pasar yang telah mereka tentukan sendiri di masa awal
ketika berdiri. Perpustakaan Perguruan tinggi mempunyai segmen pasar yaitu
kelompok mahasiswa dan pengajar, perpustakaan umum atau daerah mempunyai segmen
pasar masyarakat umum demikian pula dengan perpustakaan khusus yang menjual
produk jasanya kepada kalangan tertentu atau khusus.
“POSITIONING” APA DAN BAGAIMANA
Dalam definisi tradisional, Positioning sering disebut
sebagai strategi untuk memenangi dan menguasai benak pelanggan melalui produk
yang kita tawarkan (Kartajaya, Hermawan : 2004 :11). Hermawan Kartajaya dalam
bukunya “ Hermawan Kartajaya on Positioning mempunyai definisi sendiri.
Positioning didefinisikan sebagai the strategy to lead your customer credible,
yaitu upaya mengarahkan pelanggan anda secara kredibel atau dengan kata lain
upaya untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan pelanggan. Semakin kredibel
anda di mata pelanggan, semakin kukuh pula positioning anda.
PERAN REGULASI DALAM MENENTUKAN “POSITIONING” PERPUSTAKAAN
Peran Regulasi dapat menentukan positioning sebuah
perpustakaan, sebagai contoh dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1990 tentang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, maka Perpustakaan
Nasional dan jaringan dibawahnya merupakan satu-satunya organisasi yang
mempunyai otoritas dalam pengumpulan koleksi-koleksi karya cetak dan karya
rekam dari seluruh penerbit di Indonesia. Positioning perpustakaan Nasional
sangat kuat tentunya dengan brand image perpustakaan terlengkap koleksinya di
Indonesia, sehingga pemustaka/pengguna perpustakaan otomastis akan tergantung
kepada perpustakaan Nasional. Contoh lain adalah Perpustakaan Umum DKI dengan
SK Gubernur No. 499 tahun 1996. Positioning Perpusda DKI akan semakin kuat
karena dengan regulasi tersebut masing-masing unit atau satuan kerja di
lingkungan Pemprov DKI wajib memberikan sembilan karya cetak untuk dikoleksi
Perpusda DKI. Perpusda DKI akan mempunyai brand image di masyarakat sebagai
perpustakaan dengan koleksi lokal DKI Jakarta terlengkap di Indonesia tentunya.
Pada beberapa Perpustakaan Perguruan Tinggi, Statuta Universitas merupakan
senjata ampuh untuk memposisikan Perpustakaan sebagai “ Center of Learning”.
MOTTO PERPUSTAKAAN DAN POSITIONING
Motto dapat dijadikan sebagai alat atau senjata untuk
mengarahkan masyarakat agar mengetahui Positioning sebuah perusahaan dalam
menjual produk barang atau jasanya. Sebagai contoh Coca Cola yang memposisikan
dirinya sebagai “ The Real Thing” alias Cola yang Orisinil dan Klasik. Dengan
semboyan atau motto tersebut Coca Cola berusaha mengarahkan atau memberi citra
kepada masyarakat bahwa selain Coca Cola minuman Cola lainnya adalah pasti
palsu. Sebaliknya sebagai tandingan atau competitor, Pepsi berusaha membangun
citra dirinya dengan sebutan “ Generation Next” dan menganggap Coca Cola
sebagai terlalu tua. Jika diibaratkan sebagai perusahaan yang menjual jasa maka
perpustakaan dalam menentukan posisinya dapat memberikan semboyan atau motto
yang mudah dikenal oleh masyarakat sehingga brand image terhadap produk dan
perpustakaan sebagai produsennya akan diingat selalu oleh pengguna
perpustakaan. Di beberapa perpustakaan Amerika Serikat telah banyak yang
mengadopsi positioning ini, diantaranya Biomedical Library University of
California dengan “"Connect, reflect, research, discover" , Royal
Hospital Central library dengan motto “Quality has to be Seen to be Believed,
Perpustakaan Universitas Minnesota di AS yang dikenal sebagai “ Human Right Of
Library”. Di Indonesia ada beberapa perpustakaan yang telah mengembangkan
strategi positioning ini seperti perpustakaan Petra Surabaya dengan konsep
“Perpustakaan Tanpa Dinding (Library Without Walls)” ketika memulai
terbentuknya jaringan PetraNet dengan menyediakan layanan akses internet bagi
penggunanya dan mulai mengembangkan layanan online pada tahun 1996,
Perpustakaan Universitas Surabaya dengan “One Stop Information Service
Provider”, Moto “melayani dengan cinta” milik perpustakaan ITS.
BRAND IMAGE DALAM PEMASARAN LAYANAN PERPUSTAKAAN
Menentukan “ Brand Image” yang akan dijual oleh perpustakaan
sangatlah penting. Beberapa marketer dalam dunia marketing membedakan aspek
psikologi merk dengan aspek pengalaman. Aspek pengalaman merupakan gabungan
seluruh point pengalaman berinteraksi dengan merk, atau sering disebut brand
experience. Aspek psikologis, sering direferensikan sebagai brand image, adalah
citra yang dibangun dalam alam bawah sadar konsumen melalui informasi dan
ekspektasi yang diharapkan melalui produk atau jasa. Pendekatan yang menyeluruh
dalam membangun merk meliputi struktur merk, bisnis dan manusia yang terlibat
dalam produk. Sebagai Contoh Perpustakaan Umum DKI Jakarta tentu mempunyai
produk local content mengenai Jakarta baik buku tentang sejarah Jakarta,
Peraturan daerah, statistik kota Jakarta dan sebagainya, sehingga produk atau
koleksi yang dimiliki oleh perpusda DKI Jakarta dapat dijadikan brand image
bagi perpustakaan tersebut. Dengan brand image tersebut, Perpusda DKI Jakarta
mencoba membangun citra dan mengarahkan masyarakat sehingga mereka para
pemustaka atau pengguna perpustakaan mengerti bahwa hanya Perpusda DKI Jakarta
sajalah yang memiliki koleksi terlengkap mengenai seluk beluk kota Jakarta.
Strategi tersebut juga dikembangkan oleh beberapa perpustakaan daerah di era
80-an dengan produk layanan terkenalnya mobil perpustakaan keliling, PDII-LIPI
dengan produk kemasan informasi digitalnya, Perpustakaan Khusus lainnya seperti
Perpustakaan Bung Hatta, Japan Foundation ,British Council, Produk Spectra dari
Perpustakaan Petra, KCM dari Kompas, Sampoerna Corner milik perpustakaan ITS,
Amcor milik perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya.
INOVATIF DAN KREATIF
Agar positioning tetap kuat maka perpustakaan yang
diibaratkan sebagai perusahaan jasa yang menyediakan informasi harus tetap
inovatif dan kreatif dalam membangun brand image kepada pengguna perpustakaan.
Positioning akan berubah jika nantinya ada kompetitor yang lebih baik dalam
menawarkan jasa dan berhasil membangun brand image yang ditawarkan. Tapi hukum
alam marketing tentunta akan terus berjalan yaitu product life cycle dimana
produk yang telah menjadi unggulan dan merupakan the best brand image bagi
perpustakaan akan ada masa surutnya, maka kebijaksanaan internal Perpustakaan
harus segera melakukan repositioning dengan melakukan diferensiasi produk jasa.
Pustakawan dan SDM Perpustakaan yang inovatif dan kreatiflah sebagai kunci,
maka benar kata Jact Trout seorang pakar marketing yaitu Diferentiatie or Die ,
berbeda atau mati.
PENUTUP
Dalam menentukan positioning, sebuah perusahaan tidak
terlepas dari hal-hal yang menguntungkan maupun merugikan bagi dirinya.
Regulasi adalah salah satu penyebabnya. Ketika zaman orde baru sebelum
diberlakukannya UU anti Monopoli maka posisi perusahaan sekelas Telkom dan
Pertamina sangant kuat. Tanpa harus bermarketingpun mereka akan tetap dapat
memeras pundi-pundi emas. Sebaliknya ketika diberlakukan UU anti monopoli maka
perusahaan-perusahaan tersebut segera melakukan repositioning dan
differensiasi. Perpustakaan bisa mengambil pelajaran dari strategi marketing
modern. Regulasi dalam menetukan keberadaan perpustakaan dapat menjadi modal
awal untuk menentukan segmen pasar yang dituju dan menentukan brand image
kepada calon user atau pengguna sebelum produk jasa yang akan ditawarkan di
pasarkan. Perpustakaan jangan terlalu takut mengambil resiko dengan berpikir
apakah produk yang ditawarkan akan laku atau tidak karena yang menilai sebuah
produk adalah user atau pengguna dengan berbagai persepsi yang berkembang di
masyarakat. Perpustakaan tentunya hanya berusaha melakukan positioning agar
brand imagenya tetap kuat di mata user atau pengguna perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA
* Biomedical Library, Dramatically Renovated, Plans Colorful
Dedication, http://www.universityofcalifornia.edu/news/article/8471, akses 24
Nopember 2007
* Central Medical Library Royal Hospital,
http://www.rhcml.com/about.asp, diakses 24 Nopember 2007
* Dengan Diberlakukannya Otonomi Daerah, UU No. 4/1990
tentang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Perlu Direvisi,
http://www.pnri.go.id/official_v2005.5/activities/news/index.asp?box=detail&id=200671215117&from_box=list&page=15&search_keyword=,
akses tanggal 23 Nopember 2007
* Djatin, Jusni dan Sri Hartinah, PENGEMASAN DAN PEMASARAN
INFORMASI : PENGALAMAN PDII-LIPI,
www.consal.org.sg/webupload/forums/attachments/2277.doc, akses 29 Nopember 2007
* KARTAJAYA, Hermawan, Hermawan Kertajaya On Positioning,
Bandung : Mizan, 2006
* KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis,
Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.1, Jakarta : Prehallindo,
1997
* KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis,
Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.2, Jakarta : Prehallindo,
1997
* ·Perpustakaan ITS: Melayani
DenganCinta,http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=2715, akses 29 Nopember 2007
* RUHIMAT,Perpustakaan Perlu Wajah Baru,
http://www.jplh.or.id/elnv4/topik/artikel/perpustakaan_perlu_wajah_baru.html,
akses tanggal 23 Nopember 2007
Komentar
Posting Komentar